...
Ungkai menyelinap antara batang-batang cengal sebesar pemeluk.Menundukkan kepalanya disebalik lebar daun-daun palas. Mendiamkan diri dan membatukan gerak kecuali denyut nadi.
Suara-suara gemersik ranting-ranting bergeseran di hembus angin penghujung kanopi.
Perlahan-lahan Ungkai melurut batang buluh dan disangkutkan pada tangsi. Ditariknya perlahan dan busur rotan yang telah diukir cantik meliuk bengkok.
Tangsi dirapatkan ke mata kanannya dan ditenangnya objek hitam bergerak-gerak menguis antara daun-daun kering bertaburan di hamparan rimba tropika.
Zussss
Buluh runcing bermata besi tempaan tangan meluncur deras dan meluncur antara celah-celah ranting-ranting berceracakan.Singgah dan menghamburkan darah. Rebah.
Anak babi hutan hitam legam menggelupur.Darah tersembur.Masih cuba bangkit untuk lari dari tusukan buluh berbisa yang meresap ke jantung dan hempulur.
Ungkai menarik panahnya ke busur dan melepaskan satu lagi tusukan tepat ke hati anak babi.
Mati.
Ungkai tersenyum puas dan bangkit dari persembunyian.Melangkah perlahan ke mangsa pemburuan. Diikatnya kedua kaki dan ditariknya dua batang panah yang terjulur.Dikendongnya di bahu dan melangkah ingin berlalu mencari mangsa yang baru.
Terdengar olehnya bunyi ranting-ranting dipijak keras dan degus-degus marah.Antara celah-celah batang meranti dan cengal.Dia hanya sempat berpaling dan binatang bertaring panjang terus menerkam dan menyondol ke perutnya.Ungkai tak sempat bertahan dan dia melambung ke belakang. Terhempas ke ranting dan dahan antara semak tinggi menjulang. Darah terhambur dan kulitnya rabak.
Belum sempat dia bangkit dan cuba beralih. Binatang hitam bertaring panjang memacakkan kuku-kuku hitam ke dada hutan dan menusuk taringnya terbenam ke dada Ungkai. Bagaikan tusukan-tusukan anak panahnya tadi, bisa menyusup ke urat dan nadi.Ungkai menggelupur dan mencari bilah udara yang sudah terpancung dari kerongkong.
Nafasnya terhenti.
Binatang hitam buas itu terus menguis-nguis mayatnya dengan kaki. Dendamnya pecah dan terurai dengan buakan darah yang memancut ke lantai beralaskan daun-daun kontang bertaburan.
Suara-suara gemersik ranting-ranting bergeseran di hembus angin penghujung kanopi.
Malam itu, seluruh kampung menangisi pemergian Ungkai. Jeritan-jeritan bergema panjang memecah damai di satu sudut hutan.Airmata jatuh berguguran dari pipi-pipi suram diterangi pelita ayan.
Matinya sebuah jiwa yang masih mencari erti.
…
Di satu sudut kota.
Metropolitan yang selalu kau bangga-bangga.
Seorang anak muda seusia Ungkai rebah dan terhenti nafasnya di dalam longkang hanyir meloyakan. Tubuhnya yang hanya tinggal tulang akhirnya meninggalkan lorong-lorong hitam di belakang pencakar langit kebanggaan.
Tiada jeritan.
Tiada langsung tangisan.
Tiada airmata mengiringi kematian.
Matinya sebuah jiwa.
Pasca Merdeka.
~Po.
No comments:
Post a Comment